Bayang-bayang Nabi (by Kang Jaz)

Assalamualaikum dan hai buat semua pembaca Lantai. Entry kali ni aku petik daripada blog Encik Mamasteguh (shohiba-ukhibbuki.blogspot.com). Actually, ramai lagi blogger-blogger yang sudah pun menge”post” puisi ni di blog masing-masing, tapi aku still tak jumpe siapakah penulis puisi ini yang sebenarnya. Aku try search kat Google siape sebenarnye Kang Jaz tu, tapi semuanya tak berhasil (misteri sangat). Dorang mcm kumpulan puisi Islam yg sgt underground. BTW, aku dapat puisi ni pun daripada one of my Facebook friend yang aku rasa agak rapat gak la. His name is Azim. Okay lah, korang try lah hayati puisi di bawah ini.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin?
“Membela yang lemah dan membantu yang miskin” jawab Nabi

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama’?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
Yang membela orang-orang lemah” jawabnya

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
“Bersabarlah, dan tetaplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulama’mu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama’ yang hidupnya juhud dari harta”

Ya Rasulullah, pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama’ seperti itu sudah menghilang entah ke mana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama’-ulama’ yang tamak
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakkan mereka!
Apa yang harus aku lakukan? Ya RAsulullah
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia?

“Wahai ummatku…
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan isterimu sahaja
Kerana Allah menganjurkan, “Wa ‘asiruhunna bil ma’ruf”
Ikutilah fatwa hatimu
Kerana hadis mengatakan, “Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka”
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, “Kullulkum Ra’in, ea kullukum masulun ‘an ra’iyyatihi?”

Hah? sorry lah sebab bahasa Arab yang kat penghujung puisi ni aku tak faham. Tapi sedikit sebanyak puisi ni boleh membawa iktibar kepada diriku serta para pembaca yang lain tentang betapa dekatnya kita dengan hari penghitungan, hari pembalasan, hari kemusnahan dunia, yakni hari kiamat.

Dan aku mintak maaf pada si penulis, aku edit sikit bahasa dan kesalahan ayat supaya sesuai difahami oleh rakan-rakan senegaraku.

About Mokha Ismail

Nothing to write. Still undiscovered!
This entry was posted in Floor of Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s